Memilih Obat Demam atau Penurun Panas yang Tepat

Dipublish tanggal: Feb 22, 2019 Update terakhir: Nov 10, 2020 Tinjau pada Mei 20, 2019 Waktu baca: 3 menit
Memilih Obat Demam atau Penurun Panas yang Tepat

Ringkasan

Buka

Tutup

  • Demam sendiri merupakan salah satu tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi akibat virus, bakteri, ataupun parasit yang masuk. Seseorang dikatakan demam jika suhu tubuhnya di atas 38° Celcius.
  • Ada 3 jenis suhu yang dapat digunakan untuk menentukan demam atau tidaknya seseorang, yaitu suhu oral, suhu rektal, atau suhu axilla (pangkal paha).
  • Beberapa jenis obat demam atau penurun panas yang dapat dikonsumsi antara lain aspirin, ibuprofen, atau paracetamol.
  • Bayi usia 6-24 bulan perlu diberikan obat demam paracetamol jika suhu rektal di atas 38° Celcius. Hindari memberikan aspirin pada anak usia < 18 tahun.
  • Anak usia 2-17 tahun perlu diberikan obat demam paracetamol atau ibuprofen jika suhu tubuhnya di atas 38,5° Celcius dan 38,9° Celcius pada usia > 18 tahun.
  • Berikan obat demam bila diperlukan. Anda juga dapat melakukan pemeriksaan profil demam untuk memastikan penyebab demamnya.

Ketika terjadi demam atau suhu tubuh yang tinggi, maka kebanyakan orang terutama orangtua akan berpikir bagaimana cara menurunkan suhu tubuh tersebut. Salah satu caranya adalah dengan minum obat demam atau penurun panas. Meski ada baiknya untuk meminimalisir pemberian obat ketika sakit, tetapi ketika demam sudah berlangsung selama lebih dari semalam ada baiknya untuk mengonsumsi obat demam atau penurun panas.

Demam sendiri merupakan salah satu tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi akibat virus, bakteri, ataupun parasit yang masuk ke dalam tubuh. Dikatakan demam ketika suhu tubuh berada di atas 38° Celcius dan hal ini tentunya menyebabkan rasa tak nyaman bagi tubuh.

Untuk mengetahui ketinggian suhu tubuh dapat digunakan alat pengukur suhu tubuh yaitu termometer dengan penempatan yang berbeda, seperti:

  • Suhu Oral adalah suhu tubuh yang didapat dengan cara meletakkan termometer di mulut
  • Suhu Rektal adalah suhu tubuh yang didapat dengan cara meletakkan termometer di rektum (bagian dalam anus). Suhu tubuh yang tertera biasanya akan lebih tinggi satu derajat daripada suhu oral
  • Suhu Axilla atau Groin (pangkal paha) adalah suhu tubuh yang didapat dengan cara meletakkan termometer di ketiak atau pangkal paha. Biasanya hasilnya kurang akurat dan akan menghasilkan suhu yang lebih rendah 0,6ºC dari suhu oral

Memilih obat demam atau penurun panas yang tepat

Beberapa jenis obat demam atau penurun panas yang dapat dikonsumsi antara lain:

1. Aspirin

Aspirin memiliki fungsi untuk meredakan peradangan (antiinflamasi), pereda nyeri (analgesik), menurunkan suhu tubuh (antipiretik), serta menghambat pembekuan darah (antiplatelet).

2. Ibuprofen

Ibuprofen berfungsi sebagai obat penurun panas yang banyak digunakan juga untuk meredakan nyeri akibat sakit kepala, sakit gigi, nyeri haid, dan nyeri otot.

3. Acetaminophen (Paracetamol)

Paracetamol digunakan untuk mengobati rasa sakit yang sifatnya ringan hingga sedang, baik nyeri haid, sakit gigi, sakit kepala, hingga nyeri akibat flu.

Baca Juga: Berbagai Penyebab Demam atau Badan Panas

Kapan harus minum obat demam atau penurun panas?

Berikut ini beberapa panduan penanganan serta pemilihan obat demam berdasarkan kelompok usia dan derajat tingginya demam.

Pengobatan demam pada bayi:

  • Umur 0-3 bulan: Suhu rektal 38°C atau lebih tinggi, maka sebaiknya langsung hubungi dokter, walaupun tidak terdapat tanda atau gejala lainnya pada bayi
  • Umur 3-6 bulan: Suhu rektal sampai 38°C, maka biarkan bayi istirahat dan beri banyak minum (ASI). Tidak perlu obat demam atau penurun panas, tetapi hubungi dokter jika anak rewel tidak seperti biasanya atau terlihat gelisah dan hanya ingin tidur (badan lemah)
  • Umur 6-24 bulan: Suhu rektal > 38°C, maka perlu diberi obat demam parasetamol sesuai dengan dosis berat badan untuk anak. Jika usia anak > 6 bulan, ibuprofen juga dapat diberikan tetapi harus disesuaikan dengan takaran dosis yang sesuai usia atau berat badan. Jangan pernah memberikan obat demam yang mengandung aspirin (asam asetil salisilat) pada anak usia < 18 tahun. Hubungi dokter jika demam tidak kunjung turun atau setelah lebih dari sehari

Pengobatan demam pada anak:

  • Usia 2-17 tahun: Suhu tubuh hingga 38,5°C yang diambil secara rektal untuk anak di bawah usia 3 tahun atau suhu oral untuk anak di atas 3 tahun maka biarkan anak beristirahat dan minum air putih lebih banyak. Obat demam atau penurun panas diberikan bila memang perlu dan hubungi dokter jika anak rewel tidak seperti biasanya, terlihat gelisah, atau mengeluh sakit yang signifikan
  • Usia 2-17 tahun: Suhu tubuh > 38,5°C yang diambil secara rektal untuk anak di bawah 3 tahun atau suhu oral untuk anak di atas 3 tahun maka berikan obat demam acetaminophen (paracetamol) atau ibuprofen. Sebelum memberikan obat, bacalah takaran dosisnya sesuai umur atau berat badan. Jangan memberikan obat demam yang dikombinasikan dengan obat batuk dan pilek. Selain itu, jangan pernah memberikan obat demam yang mengandung aspirin (asam asetil salisilat) pada anak usia < 18 tahun. Hubungi dokter jika demam tidak kunjung turun atau setelah lebih dari sehari

Pengobatan demam pada dewasa:

  • Usia 18 tahun atau lebih: Suhu oral hingga 38,9°C maka dibutuhkan waktu istirahat dan banyak minum air putih. Obat demam atau penurun panas juga boleh dikonsumsi tetapi segera hubungi dokter jika demam disertai sakit kepala hebat, leher kaku, nafas cepat, dan gejala lain yang tidak biasa. 
  • Usia 18 tahun atau lebih: Suhu oral > 38,9°C mungkin dapat membuat perasaan tidak nyaman, maka pemberian acetaminophen (paracetamol), ibuprofen atau aspirin diperbolehkan. Baca aturan pakai dan jangan minum obat demam yang dikombinasikan dengan obat batuk pilek apabila tidak disertai batuk dan pilek. Hubungi dokter jika demam tak kunjung turun atau ketika demam masih tetap ada selama 3 hari atau lebih.

Baca Juga: Cara Ampuh untuk Menurunkan Demam Dengan Cepat


15 Referensi
Tim Editorial HonestDocs berkomitmen untuk memberikan informasi yang akurat kepada pembaca kami. Kami bekerja dengan dokter dan praktisi kesehatan serta menggunakan sumber yang dapat dipercaya dari institusi terkait. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang proses editorial kami di sini.
U.S. National Library of Medicine. (2015, September). Ibuprofen (https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/meds/a682159.html)
U.S. National Library of Medicine. (2016, June). Aspirin (https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/meds/a682878.html)
U.S. National Library of Medicine. (2014, August). Acetaminophen (https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/meds/a681004.html)

Artikel ini hanya sebagai informasi kesehatan, bukan diagnosis medis. HonestDocs menyarankan Anda untuk tetap melakukan konsultasi langsung dengan dokter yang ahli dibidangnya.

Terima kasih sudah membaca. Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?
(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Buka di app